Aku melihatnya duduk disana, keringat membasahi tubuhnya. Sesekali iya melepaskan senyumannya yang manis itu. Entah mengapa aku sangat senang melihatnya.
Sedang asyik-asyiknya berbincang dengan temannya, ibunya datang dengan berjalan menggunakan kayu beroda yang dibuat khusus untuk orang yang cacat. Dibawanya gelas bekas yang didalamnya terdapat banyak uang. Tentunya bukan uang kertas yang bernominal tinggi. Hanya uang recehan yang jika terjatuh ke lantai akan berbunyi sangat nyaring. Di lap kan keringat ibunya yang dari tadi sudah lama berjemur di bawah terik matahati.
Ironis memang hidup anak ini. tubuhnya kering kerontang karena harus mengurus ibunya yang sudah sangat renta dan cacat karena kecelakaan yang menimpanya, itu pula yang menyebabkan ayahnya meninggal. Kulitnya yang sudah sangat gelap karena setiap hari menjual koran untuk makannya sehari-hari, dengan dituntun oleh temannya. Ia juga tidak pernah bisa merasakan bersekolah seperti anak-anak lainnya. Terkadang, batinnya tidak sanggup membiarkan ibunya menggemis dan hanya mencari belas kasian dari orang lain. Tetapi fisiknya tak dapat menghentikan itu semua. Karena ia terlahir dengan penglihatan yang tak normal dan selalu merasa sangat gelap. Ya, ia buta.
Walaupun begitu, ia selalu merasa bahagia karena dia merasa hidup di dunia ini hanya sementara. Dia juga sangat bersyukur karena bisa diberi kesempatan hidup di dunia ini. itulah mengapa aku sangat senang melihatnya. Dibalik mukanya yang kusam, terdapat hati yang sangat bersih tanpa noda sedikit pun. Mungkin jika kita merasa kasian terhadapnya, kita harus lebih merasa kasian terhadap diri kita sendiri yang tidak pernah bisa mensyukuri apa yang telah diberikan Allah terhadap kita.
"DIBALIK MUKANYA YANG KUSAM, TERDAPAT HATI YANG SANGAT BERSIH TANPA NODA SEDIKIT PUN"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar